Home » » MAMA ALETA : Perjuangan Mengusir Investor Perusak Alam

MAMA ALETA : Perjuangan Mengusir Investor Perusak Alam

Mama Aleta hanyalah lulusan SMA, dan tidak pernah merasakan aktifitas dunia kampus. Namun, semangat juangnya dalam melawan penindasan dan merebut kembali hak-hak masyarakat Molo tempat ia dilahirkan sungguh begitu membara. lengkapnya Mama Aleta lahir di Lelobatan,Molo,Timor Tengah Selatan pada 16 April 1963. Sedari kecilnya memang sudah dekat dan menyatu dengan alam karena beliau berasal dari keluarga petani dan merupakan anak ke-6 dari 8 bersaudara. Mama Aleta sangat mengagumi tanah kelahirannya yang kaya akan keindahan alam dan sumber daya alamnya.
 
Perjuangan Mama Aleta dalam mengusir investor pertambangan batu sudah dimulai sejak tahun 1990, beliau bergerak bersama warga Suku Mollo. pada tahun 1996,

“Tahun 1996, masuk pertambangan batu magnet, PT. Ose Indah Magnet, tapi gagal. Penduduk kampung tidak setuju. PT. Itu keluar. Masyarakat juga tidak paham advokasi. Tahun 2007 masuk PT. Karya Asta Alam, aktivitasnya cukup besar. Juga PT. Sejahtera. Di Mollo ada beberapa ijin tambang yang masuk serentak,” tutur Mama Aleta dalam Diskusi Semangat Tanpa Batas di StoS Film Festival, Kamis 23 Februari lalu.

Mama Aleta berjuang mengusir kegiatan pertambangan di Mollo, bahkan harus tidur di hutan. Tak jarang tersebar kabar kalau mama Aleta sudah ditangkap dan di penjara untuk menakut-nakuti pendukunganya.

“Filosophi sebagai orang Timor, batu atau bumi sebagai tubuh manusia. Rambut adalah hutan, daging adalah tanah, dan tulang sama dengan batu. Satu sama lain saling terkait,”  Mama Aleta menjelaskan satu kesatuan sumber daya alam dengan tubuh manusia, sesuai filosophi orang Timor.

“Di Timor, banyak nama marga diambil dari nama batu. Seperti nama Baxun, itu marga dari batu. Menurut orang Timor, kalau ambil batu dari nama marga, sama dengan membunuh saya,” artinya kalau batu-batu di Timor habis oleh tambang, habis pula nama-nama marga.
Kampung-kampung  yang terdiri dari gunung-gunung batu di atas, sumber mata air, kalau ada tambang dapat menghabiskan hutan, mengakibatkan debit air berkurang. Di dekat hutan larangan pun ada pemukiman masyarakat yang memanfaatkan air untuk peternakan mereka.

“Kita adalah petani, yang  tidak bisa terlepas dari sumber daya alam. Punya air cukup, tanah cukup baru bisa dapat gaji ketiga belas, kalau itu tidak cukup, 9 pun tidak sampai. Janji-janji diberikan, bebas biaya sekolah, rumah berlantai, jalan-jalan bagus, sampai 5 tahun tidak ada janji-janji tadi,”  singgung Mama Aleta.

Melanie Subono dan Fadli FADLI simpati dan mendukung perjuangan Mama Aleta, menurut keduanya People Power yang harus ditegakkan.  Melani dan FADLI bersedia membantu menyarakan perjuangan Mama Aleta melalui jaringan sosial  mereka berdua,  sesuai kapasitasnya sebagai public figure dari kalangan musisi.

“Seperti unfinished bussines, ingin menjadi corong untuk semangat-semangat yang dilakukan oleh orang-orang seperti mama Aleta, dia adalah pejuang yang sebenarnya,”  tutur FADLI PADI yang juga Sahabat WALHI.

Sementara Abetnego, dari Sawit Watch  yang tergabung dalam konsorsium di StoS Film Festival menyinggung  soal ekspansi lahan selain dari kegiatan tambang,  yaitu perkebunan kelapa sawit.

“Suku adat Molo memiliki hubungan rohani dengan tanah dan yakin bahwa segala sesuatu itu saling berkaitan. Kami bersemboyan bahwa ‘tanah merupakan daging, air merupakan darah, batu merupakan tulang, hutan merupakan pembuluh darah dan rambut’. Kami percaya bahwa bila kami sampai terpisah dari salah satu unsur alam tersebut ini, atau jika salah satu dari unsur ini sampai rusak, kami akan mati dan kehilangan jati diri kami. Sangatlah penting bagi kami untuk melindungi tanah kami,”ungkapnya dalam sebuah wawancara.